Arus globalisasi sudah tidak terbendung masuk ke Indonesia.
Disertai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini memasuki
era revolusi industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economy, artificial
intelligence,big data, robotic, dan lain sebagainya
atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Menghadapi
tantangan tersebut, pengajaran di perguruan tinggi pun dituntut untuk berubah,
termasuk dalam menghasilkan dosen berkualitas bagi generasi masa depan.
Revolusi
digital dan era disrupsi teknologi adalah istilah lain dari industri 4.0.
Disebut revolusi digital karena terjadinya proliferasi komputer dan otomatisasi
pencatatan di semua bidang. Industri 4.0 dikatakan era disrupsi teknologi
karena otomatisasi dan konektivitas di sebuah bidang akan membuat
pergerakan dunia industri dan persaingan kerja menjadi tidak
linear. Salah satu karakteristik unik dari industri 4.0 adalah
pengaplikasian kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Salah satu
bentuk pengaplikasian tersebut adalah penggunaan robot untuk menggantikan
tenaga manusia sehingga lebih murah, efektif, dan efisien.
Pendidikan 4.0 (education 4.0) adalah
istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan
berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun
tidak ke dalam pembelajaran. Pendidikan 4.0 adalah fenomena yang merespons
kebutuhan munculnya revolusi industri keempat (4 IR) atau (RI 4) dimana manusia
dan mesin diselaraskan untuk mendapatkan solusi, memecahkan masalah dan tentu
saja menemukan kemungkinan inovasi baru. Revolusi Industri Keempat (4IR)
diumumkan di Davos pada tahun 2016, berbagai elemen terkait dengan dimensi baru
ini telah berlangsung selama hampir satu dekade.
Menristekdikti
menjelaskan ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan
dilaksanakan oleh Kemenristekdikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya
saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu:
1. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human literacy.
2.
Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif
terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan
program studi yang dibutuhkan. Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber University,
seperti sistem perkuliahan distance learning, sehingga mengurangi intensitas
pertemuan dosen dan mahasiswa. Cyber University ini nantinya diharapkan menjadi
solusi bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi
yang berkualitas.
3.
Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa
yang responsive, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0.
Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur
pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas
pendidikan, riset, dan inovasi.
4. Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas
industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.
5.
Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan
ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri,
dan Masyarakat.
Permasalahan
1. Apakah
kendala yang mungkin terjadi jika diindonesia nanti akan mengunakan multimedia
revolusi industri era 4.0 ini? Jelaskan!
2. Apakah
multimedia revolusi industri era 4.0 ini akan efektif jika digunakan
diindonesia? Jelaskan!
3. Bagaimana
pengaruh multimedia revolusi industri ere 4.0 ini para pendidik maupun
pelajar? Jelaskan!
4. Bagaimana pendapat anda tentang multimedia pembelajaran revolusi industri 4.0 apakah ada dampak negatif nya untuk pendidikan di indonesia?
4. Bagaimana pendapat anda tentang multimedia pembelajaran revolusi industri 4.0 apakah ada dampak negatif nya untuk pendidikan di indonesia?
Saya akan menjawab permasalahan pertama
BalasHapus1. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human literacy.
2. Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber University, seperti sistem perkuliahan distance learning, sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa. Cyber University ini nantinya diharapkan menjadi solusi bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas.
3. Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsive, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan, riset, dan inovasi.
4. Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri, dan Masyarakat.
5. Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.
Read more at https://www.ristekdikti.go.id/pengembangan-iptek-dan-pendidikan-tinggi-di-era-revolusi-industri-4-0/#mILg3uFgWy3gBbUo.99
Saya akan menjawab permasalahan nomor 4
BalasHapusPermasalahan terakhir, tentunya suatu hal itu punya banyam sisi. Pada dampak ada sisi yg baik ada pula sisi yg buruk. Apa buruk nya? Maka kita lihat, apakah para pengajar indonesia dapat memahami iptek dengan baik menghunakannya dengan baik? Jika bisa, maka kita tidak akan ketinggalan. Lalu apakah pelajar akan belajar dengan baik? Atau malah lebih banyak mainnya dari pada belejar nya? Dampak buruk ini sebenarnya sebuah tantangan. Dapat teratasi jika kita mampu lebih kreatif dan lebih cerdas daripada teknologi, maksudnya jangan mau di perbudak, karena semua serba mudah bukan berarti jadi semakin malas.
Saya akan menjawab permasalahan no 3 yaitu Hubungan revolusi industri 4.0 dengan sistem pendidikan di Indonesia, sesuai arahan MENRISTEKDIKTI terkait dampak industri 4.0 yakni dengan adanya ‘digitalisasi sistem’, mau tidak mau menuntut baik para dosen maupun mahasiswa untuk mampu dengan cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sistem pembelajaran yang semula berbasis pada tatap muka secara langsung di kelas, bukan tidak mungkin akan dapat digantikan dengan sistem pembelajaran yang terintegrasikan melalui jaringan internet (online learning). Adanya perubahan tersebut juga memiliki analisis risk-benefit, di mana keuntungan yang bisa didapatkan antara lain mahasiswa tetap bisa belajar dan tetap bisa mengakses materi pembelajaran tanpa harus hadir di kelas, hal ini pun menjadi keuntungan tersendiri bagi siswa yang mengalami kendala dalam hal jarak dan finansial.
BalasHapusIzi menjawab permasalahan no 2
BalasHapusKetika negara masuk ke Industry 4.0, pertumbuhan industri yang menyeluruh dan berkelanjutan cenderung terjadi. Oleh karena itu, kami telah menyiapkan empat langkah strategis agar Indonesia mengimplementasikan Industry 4.0,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di sela agendannya menghadiri World Economic Forum on ASEAN 2017 di Phnom Penh, Kamboja, Jumat (12/5).
Pertama, menurut Airlangga, pihaknya tengah mendorong agar angkatan kerja di Indonesia terus belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan teknologi internet of things atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri.
“Guna mendukung upaya tersebut, kami juga menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri,” ujarnya. Pengembangan program ini sekaligus menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap pakai di dunia industri dengan target mencapai satu juta orang pada 2019.
Langkah kedua, yakni pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi industri kecil dan menengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM. “Program e-smart IKM ini merupakan upaya juga memperluas pasar dalam rantai nilai dunia dan menghadapi era Industry 4.0,” imbuhnya.
Ketiga, lanjut Airlangga, pihaknya meminta kepada industri nasional dapat menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality. “SistemIndustry 4.0 ini akan memberikan keuntungan bagi industri, misalnya menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya sekitar 12-15 persen,” ungkapnya.
Airlangga menyebutkan, sejumlah sektor industri nasional telah memasuki era Industry 4.0, di antaranya industri semen, petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman. “Misalnya industri otomotif, dalam proses produksinya, mereka sudah menggunakan sistem robotic dan infrastruktur internet of things,” tuturnya.
Kemudian, di industri makanan dan minuman, teknologi Industry 4.0 diterapkan pada pemilihan bahan baku, tetapi untuk proses pengemasannya tetap menggunakan tenaga manusia. “Jadi kombinasi tersebut masih labour intensive, tidak menggantikan,” tegasnya.
Dan, langkah keempat, yang diperlukan adalah inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis. Upaya ini telah dilakukan Kementerian Perindustrian dengan mendorong penciptaan wirausaha berbasis teknologi yang dihasilkan dari beberapa technopark yang dibangun di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Bandung (Bandung Techno Park), Denpasar (TohpaTI Center), Semarang (Incubator Business Center Semarang), Makassar (Makassar Techno Park - Rumah Software Indonesia, dan Batam (Pusat Desain Ponsel).
“Pusat pengembangan inovasi tersebut juga akan ditambah dengan Innovation Center milik Apple. Jadi dari seluruh ekosistem ini, kami ingin merajut kebijakan straegis ke depan untuk memacu pertumbuhan dan daya saing industri nasional, termasuk menyiapkan insentifnya,” paparnya.
Di samping itu, Menperin melihat, beberapa industri di ASEAN telah beradaptasi dengan perubahan teknologi dan mengubah sistem produksi untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan ratio pertumbuhan. “Adopsi yang sukses atas praktek manufaktur tingkat lanjut dapat menstimulasi produksi industri dan pada gilirannya memastikan pertumbuhan dan kemajuan,” ujarnya.
Untuk saling melengkapi antara negara-negara ASEAN berdasarkan ASEAN Economic Community Blueprint 2025, harus mampu mewujudkan ekonomi terintegrasi yang mendukung ketahanan dan pertumbuhan yang tinggi. “Fasilitasi arus barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil perlu karena sebagai dasar untuk pan-regional production network di dalam ASEAN.