Jumat, 06 April 2018

PEMBELAJARAN BERBASIS WEB (E-LEARNING)


Pembelajaran berbasis web adalah suatu proses pembelajaran yang mana dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Internet merupakan jaringan yang terdiri atas ribuan bahkan jutaan komputer, termasuk di dalamnya jaringan lokal, yang terhubungkan melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan jangkauanya mencakup seluruh dunia. Internet memiliki banyak fasilitas yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kegiatan pendidikan.

Pembelajaran berbasis web merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media situs (websites) yang bisa di akses melalui jaringan internet. Pembelajaran berbasis web atau yang dikenal dengan “Web Based Learning” merupakan salah satu jenis penerapan dari pembelajaran elektronik (e-learning).
E-Learning merupakan proses dan kegiatan penerapan pembelajaran berbasis web (Web Bases Learning), pembelajaran berbasis computer (Computer Based Learning), kelas virtual (VirtualClassrooms) dan atau kelas digital (Digital Classroom). Materi – materi dalam kegiatan pembelajaran elektronik tersebut kebanyakan dihantarkan melalui media internet, intranet, tape video atau audio, penyiaran melalui satelit, telivisi interaktif serta CD-ROM. Definisi e-learning bisa bervariasi bergantung dari penyelenggaraan kegiatan e-learning tersebut dan bagaimana cara penggunaannya, termasuk juga apa tujuan penggunaanya.
E-Learning pada dasarnya adalah pengaplikasian kegiatan komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara elektronik. Definisi dari ACTD banyak digunakan atau dijadikan pedoman oleh institusi – institusi pendidikan atau penyedia layanan atau perangkat e-learning, contohnya learnframe.com yang menyediakan system manajemen e-learning, atau aplikasi Content Management System (CMS) e-learning MOODLE yang banyak digunakan oleh institusi pendidikan konvensional dalam kegiatan Blended Learning-nya. Berikut beberapa karakteristik e-learning:
1.      Interactivity (interaktivitas): tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous), seperti chatting atau messanger atau tidak langsung (Asynchronous), seperti forum, mailing list atau buku tamu.
2.      Indepedency (Kemandirian): fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar, dan bahan ajar. Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centrered learning).
3.      Accessibility (aksesibilitas): sumber – sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di jaringan internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber belajar pada pembelajaran konvensional.
4.      Enrichment (pengayaan): kegiatan pembelajaran, presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan, memungkinkan penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video streaming, simulasi dan animasi.
Ke-empat hal tersebut yang membedakan e-learning dari kegiatan pembelajaran secara konvensional. Dalam e-learning daya tangkap siswa terhadap materi pembelajaran tidak lagi tergantung pada instruktur atau guru, karena siswa mengkonstruk sendiri ilmu pengetahuannya melalui bahan – bahan ajar yang disampaikan melalui interface situs web. Dalam e-learning pengajar atau lembaga pendidikan berfungsi sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan.
   Fungsi dan Manfaat Pembelajaran Berbasis Web
Pembelajaran berbasis Web sering kali memiliki manfaat yang banyak bagi peserta didiknya. Bila dirancang dengan baik dan tepat, maka pembelajaran berbasis web bias menjadi pembelajaran yang menyenangkan, memiliki unsure interaktivitas yang tinggi, menyebabkan peserta didik mengingat lebih banyak materi pelajaran, serta mengurangi biaya-biaya operasional yang biasanya dikeluarkan oleh peserta didik untuk mengikuti pembelajaran (contohnya uang jajan/biaya transportasi sekolah).
Dikarenakan sifatnya yang maya/virtual, pembelajaran berbasis web dianggap telah memberikan fleksibilitas terhadap kegiatan pengaksesan materi pembelajaran. Penghantaran materi pembelajaran kini tidak lagi tergantung pada medium fisik seperti buku pelajaran cetak atau CD-ROM. Materi pembelajaran kini berbentuk data yang bias di decode (diuraikan) melalui perangkat elektronik seperti computer, smartphone, telepon seluler atau piranti elektronik lainnya. Disamping beberapa keunggulan tersebut, pembelajaran berbasis web juga memiliki kelemahan, yaitu kurangnya interaksi langsung antara siswa dan guru yang disebabkan oleh banyak factor teknis. Menyikapi hal tersebut, kruse berpandangan, dengan semakin majunya teknologi internet dan jaringan, dengan semakin lebarnya bandwidth dan semakin cepatnya koneksi internet beberapa tahun belakangan ini, maka kelemahan terbesar dari pembelajaran berbasis web ini bias diminimalisasi dalam beberapa tahun kedepan.
   
     Model Pengembangan Pembelajaran Berbasis Web
Multimedia pembelajaran berbasis web merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Salah satu referensi pengembangan perangkat lunak adalah pendapat pakar Software Enginering yaitu Roger S. Pressman. Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa perangkat lunak mencakup tahap-tahap: analisis kebutuhan, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan.
Salah satu model pembelajaran berbasis web dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen (2006). Model yang dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis meliputi analisis masalah dan analisis komponen pembelajaran. Tahap desain meliputi desain pembelajaran dan desain software. Tahap pengembangan adalah merakit berbagai komponen desain pembelajaran dan software menjadi sebuah program pembelajaran berbasis web. Tahap implementasi terdiri dari implementasi sementara dan implementasi penuh. Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Pengembangan model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran. Komponen-komponen utama dari strategi pembelajaran yang harus dirancang adalah: aktivitas awal pembelajaran, penyajian materi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan aktivitas tindak lanjut. Aktivitas awal pembelajaran berupa pemberian motivasi, menumbuhkan perhatian, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan kemampuan awal yang diperlukan. Penyajian materi meliputi sajian bahan ajar dan contoh-contoh yang relevan. Partisipasi peserta didik dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan umpan balik. Penilaian dapat berupa tes kemampuan awal, pretest, dan posttest. Aktivitas tindak lanjut dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat terhadap materi pembelajaran.

   Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Web
Sebagaimana media pembelajaran pada umumnya, pembelajaran berbasis web pun memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan.

    Kelebihan
  •  Memungkinkan setiap orang dimana pun, kapan pun untuk memepelajari apa pun.
  •  Pembelajar dapat belajar sesuai dengan karakteristik dan langkah dirinya sendiri karena pembelajaran berbasis web membuat pembelajaran menjadi bersifat individual.
  •  Kemampuan untuk membuat tautan (link), sehingga pembelajar dapat mengakses informasi dari berbagai sumber, baik didalam maupun diluar lingkungan belajar.
  • Sangat potenisal sebagai sumber belajar bagi pembelajar yang tidak memiliki cukup waktu untuk belajar.
  • Dapat mendorong pembelajar untuk lebih aktif dan mandiri didalam belajar.
  • Menyediakan sumber belajar tambahan yang dapat digunakan untuk memperkaya materi pembelajaran.
  • Menyediakan mesin pencari yang dapat digunakan untuk mencari informasi yang mereka butuhkan.
  • Isi dan materi pelajaran dapat di-update dengan mudah.
   Kekurangan
  •     Keberh asilan pembelajaran berbasis web bergantung pada kemandirian dan motivasi pembelajar.
  •     Akses untuk mengikuti pembelajaran dengan menggunakan web seringkali menjadi masalah bagi pembelajar.
  •      Pembelajar dapat cepat merasa bosan dan jenuh jika mereka tidak dapat mengakses informasi, dikarenakan tidak terdapatnya peralatan yang memadai dan bandwith yang cukup.
  •     Dibutuhkannya panduan bagi pembelajar untuk mencari informasi yang eleven, karena informasi yang terdapat didalam web sangat beragam.
  •    Dengan menggunakan pembelajaran berbasis web, pembelajar terkadang merasa terisolasi, terutama jika terdapat keterbatasan dalam fasilitas komunikasi.
Pemasalahan
     1.    Jelaskan Bagaimana teknik evaluasi pada pembelajaran E-Learning?
     2.    Bagaimana cara kita memnimalisir kekurangan dari menggunakan media pembelajaran                        E- Learning?
     3.  Jelskan Apakah dalam pembelajaran E-Learning guru masih berperan aktif dalam pembelajaran           tersebut? Lalu, bagaimana jika sekolah yang tidak mempunyai sarana tersebut?
     4.  Strategi yang bagaimana kita bisa mengetahui informasi yang ada di internet itu merupakan               informasi yang benar? Jelaskan!


4 komentar:

  1. Saya akan menjawab pertanyaan ke 4

    Jawabannya: dapat kita lihat dari hal hal berikut, sehingga menuntun kita untuk mendapatkan informasi yg benar
    a. Sumber informasi
    Untuk mendapatkan informasi yang akurat tidak kalah penting adalah tentang sumber informasi itu sendiri. Sumber informasi ada berbagai macam, antara lain: tokoh (orang), media massa, media elektronik, buku, jurnal, artikel, pengumunan lembaga atau instansi. Sumber informasi tersebut harus akurat. Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai memilih dan melakukan audit terhadap informasi yang kita dapatkkan (akan kita olah). Jangan sekali-kali mengambil data dari sebuah sumber yang tidak valid. Misalnya, kita ingin menanyakan alamat rumah. Tanyalah pada security atau satpam setempat, jangan pada sembarang orang yang sedang lewat.
    b. Kesesuaian antara kebutuhan informasi dengan informasi yang dicari (didapatkan)
    Bisa terjadi sumber informasi yang kita gunakan sudah akurat (dalam arti dari sumber yang bisa dipercaya dan dipertanggungkawabkan), tetapi informasi yang kita dapatkan menjadi tidak akurat. Kenapa ini bisa terjadi? Ini terjadi karena adanya miss understanding antara kebutuhan informasi kita dengan informasi yang kita cari atau kita dapatkan. Misalnya, kita ingin mencari info tentang harga hotel kelas “melati” di Jogja, tapi yang kita cari adalah harga hotel tipe “bintang 5”. Sumber informasi kita akurat(dalam arti dari sumber yang bisa dipercaya dan dipertanggungkawabkan), karena melihat di price list sebuah agen wisata. Namun, informasi menjadi tidak akurat, karena tidak cocok (tidak sesuai) dengan yang dibutuhkan.
    c. Proses pemindahan informasi dari sumber ke penerima
    Proses pemindahan informasi bisa melalui melihat, membaca, mendengarkan, atau merasakan. Untuk bisa mendapatkan informasi yang akurat, masing-masing fungsi ini harus berjalan dengan baik. Bisa jadi, sumber dan kesesuaian kebutuhan informasi (poin 1 dan 2 ) sudah terpenuhi dengan baik, namun proses pemindahannya tidak berjalan sesuai dengan standar. Misalnya, dalam sebuah kelas Guru menjelaskan dengan baik sesuai dengan silabi dan menggunakan buku acuan sesuai yang ditetapkan oleh diknas, namun siswa A sedang melamun (tidak konsentrasi) dalam mendengarkan penjelasan Guru. Siswa A ini tidak mendapatkan informasi yang akurat dari Guru.

    BalasHapus
  2. Saya mencoba menjawab permasalahan 1.

    Terdapat banyak alat/instrumen yang rinci untuk melakukan evaluasi e-learning. Pada umumnya dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama, ada instrumen on-line untuk menilai karakteristik-karakteristik pengguna dari perangkat lunak. Kedua, ada alat-alat untuk merekam dan meneliti pemakaian dengan jangka waktu dan frekuensi, baik melalui catatan dalam, halaman-halaman pengakses, profil pengguna dan lain-lain. Selain itu, untuk mengevaluasi pembelajaran berbasis web termasuk didalamnya e-learning, maka dapat digunakan model ADDIE.

    Empat macam evaluasi e-learning dengan menggunakan model ADDIE, antara lain:
    1. Subject Matter Expert Evaluation
    2. Rapid Prototype Evaluation
    3. Alpha Class Evaluation
    4. Piloting Evaluation

    BalasHapus
  3. Saya akan menjawab pertanyaan nomor 2 dimana solusi untuk mengatasi kekurangngan nya yaitu dengan meningkatkan niat siswa, dalam kita menerapkan e-learnig kita harus memasukan unsur multimedia supaya siswa lebih tertarik.
    Jika alat tidak memadai gunakan alat secukupnya ataupun bisa bergantian , dan jika aksesnya kurang maka pihak sekolah harus menyiapkan wifi

    BalasHapus
  4. Saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 3 yaitu Jelskan Apakah dalam pembelajaran E-Learning guru masih berperan aktif dalam pembelajaran tersebut? Lalu, bagaimana jika sekolah yang tidak mempunyai sarana tersebut?

    Dalam pembelajaran E-Learning guru masih berperan aktif, karena guru itu merupakan jembatan penghubung antara murid dengan pembeajaran e-learning tersebut. Tanpa ada yang menjembatani tidak mungkin murid dapat belajar menggunakan e-learning. Guru itu sebagai pengarah murid.
    Memang dalam kitab ta’lim muta’alim mengatakan bahwa guru itu s
    Jika murid tidak mempunyai aplikasi yang berupa 2D dan 3D, guru dapat menampilkan PPT sebagai sarana pengganti dari laboratorium dan virtual lab tersebut, atau bisa juga dengan menggunakan praktikum demonstrasi. Gur secara lagsung mempraktikkan didepan kelas supaya murid cepat paham dan tanpa memerlukan 2D dan 3D

    BalasHapus

MULTIMEDIA PEMBELAJARAN REVOLUSI INDUSTRI ERA 4.0

Arus globalisasi sudah tidak terbendung masuk ke Indonesia. Disertai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini mema...