Teori pemrosesan informasi adalah teori
kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan
pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana
seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang
cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu
yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.nformasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.nformasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Asumsi yang mendasari teori ini
adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut
Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian
diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam
pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal
dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam
diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif
yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari
lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
· Delapan fase tahapan proses
pembelajaran menurut Gagne
1. Motivasi
2. Pemahaman
3. Pemerolehan
4. Penyimpanan
5. Ingatan kembali
6. Generalisasi
7. Perlakuan
8. Umpan balik.
Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini,
yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Berdasarkan sumber yang saya
persiapkan sebelum kuliah, Mohammad Surya, Psikologi Pembelajaran
dan Pengajaran, (Jakarta: Pusataka Bani Quraisy, 2004), 17. Gagne
berpendapat bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi untuk
kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil pembelajaran.
Dalam pemrosesan itu informasi itu terjadi adanya interaksi antara
kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu.
· Kondisi internal adalah Keadaan
di dalam dari individu yang diperlukan untuk mencapai hasil pembelajaran dan proses
kognitif yang terjadi dari dalam individu selama proses pembelajaran
berlangsung.
· Sedangkan kondisi eksternal adalah
berbagai rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses
pembelajaran. Interaksi antara kondisi internal dan kondisi eksternal
menghasilkan hasil pembelajaran.
Menurut teori Gagne, hasil
pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan yang berupa kecakapan manusia
(Human Capabilities) yang terdiri atas:
1. Informasi Verbal
Informasi verbal adalah hasil
pembelajaran yang berupa informasi yang dinyatakan dalam bentuk verbal
(kata-kata atau kalimat) baik secara tertulis atau lisan. Informasi verbal
adalah berupa pemberian nama atau label terhadap suatu benda atau fakta,
pemberian definisi atau pengertian, atau perumusan mengenai berbagai hal dalam
bentuk verbal.
2. Kecakapan Intelektual
Kecakapan intelektual adalah
kecakapan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungan yang menggunakan
simbol-simbol. Misalnya simbol-simbol dalam bentuk matematik, seperti
penambahan, pengurangan, pembagian, perkalian dan sebagainya. Kecakapan
intelektual ini mencakup kecakapan dalam membedakan (diskriminasi). Konsep
intelektual sangat diperlukan dalam menghadapi pemecahan masalah.
3. Strategi Kognitif
Strategi kognitif ialah kecakapan
individu untuk melakukan pengendalian dan mengelola (management)
keseluruhan aktifitasnya. Dalam proses pembelajaran, strategi kognitif ini
kemampuan mengendalikan ingatan dan cara-cara berfikir agar terjadi aktifitas
yang efektif. Kalau kecakapan intelektual lebih banyak terarah kepada proses pemikiran
pelajar. Strategi kognitif ini memberikan kemudahan bagi para pelajar untuk
memilih informasi verbal dan kecakapan intelektual yang sesuai untuk diterapkan
selama proses pembelajaran dan berfikir.
4. Sikap
Sikap ialah hasil pembelajaran yang
berupa kecakapan individu untuk memilih berbagai tindakan yang akan dilakukan.
Dengan kata lain, sikap dapat diartikan sebagai keadaan didalam diri individu
yang akan member arah kecenderungan bertindak dalam menghadapi suatu objek atau
rangsangan. Dalam sikap terdapat pemikiran, peradaan yang menyertai pemikiran,
dan kesiapan untuk bertindak.
5. Kecakapan Motorik
Kecakapan motorik ialah hasil
pembelajaran yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan
fisik. Selain
memberikan teori mengenai pemrosesan data, Pak Supratman juga memberikan LKS
untuk tiap kelompok. Kelompok saya mendapatkan LKS mengenai teori Kognitif dari
Piaget. Saya menjelaskan di depan kelas bersumber buku Perkembangan Peserta
Didik dari Desmita mengenai perkembangan kognitif seseorang berdasarkan
umurnya, yaitu: sensori motor, pra-operasional, operasional konkret, dan
operasional formal. Selanjutnya kelompok lain menjelaskan topik yang lainnya.
Teori Pemrosesan Informasi dalam
Pembelajaran menurut Atkinson
Atkinson dan Shiffin dalam Levitin
(2002:296) menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu
sensori memori (sensory register) yang menerima informasi melalui indra
penerima seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah
beberapa detik informasi tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan
jangka pendek (short term memory atauworking memory).
Informasi tersebut setelah 5 – 20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam
ingatan jangka panjang (long term memory).
Dalam model pemrosesan informasi
yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan
sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input),
proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan
bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam
bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses
dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara.
Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan
dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan
mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu
perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
Teori pemrosesan informasi berpijak
pada tiga asumsi sebagaimana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih (2005:82)
bahwa:
a) antara stimulus dan respon
terdapat suatu seri pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan
dibutuhkan sejumlah waktu tertentu,
b) stimulus yang diproses melalui
tahapan tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau isinya, dan
c) salah satu dari tahap memiliki
keterbatasan kapasitas.
Implikasi dari teori pemrosesan
informasi yang memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori
manusia seperti layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki
keterbatasan kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa
dan menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi
yang diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan
aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik.
Dalam pemilihan dan penggunaan
multimedia dalam proses pembelajaran perlu memperhatikan karakteristik komponen
lain, seperti: tujuan, materi, strategi, dan juga evaluasi pembelajaran.
Karakteristik multimedia adalah:
1. Memiliki
lebih dari satu media
yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur teks dan
visual.
2. Bersifat
interaktif, yaitu memiliki kemampuan untuk mengakomodasikan respon pengguna.
3. Bersifat
mandiri, dalam pengertian member kemudahan dan kelengkapan isi sehingga
pengguna bias menggunakan tanpa bimbingan dari orang lain.
Multimedia dalam proses pembelajaran
dapat digunakan dalam tiga fungsi, yaitu:
(1) multimedia dapat berfungsi
sebagai alat bantu
instruksional,
(2) multimedia dapat berfungsi
sebagai tutorial
interaktif,
(3) multimedia dapat berfungsi sebagai sumber petunjuk
belajar.
Manfaat yang dapat diperoleh dari
pembelajaran berbantuan multimedia adalah proses pembelajaran
lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu
mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar dapat ditingkatkan, dan sikap
belajar siswa dapat ditingkatkan. Sedangkan
keunggulan pembelajaran berbantuan multimedia adalah sebagai
berikut.
a. Memperbesar benda yang
sangat kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, elektron, dan
lain-lain.
b. Memperkecil benda yang
sangat besar, yang tidak mungkin dihadirkan di sekolah, seperti gajah, rumah,
gunung dan lain-lain.
c. Menyajikan benda atau
peristiwa yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti
sistem tubuh manusia, bekerjanya suatu mesin, beredarnya planet Mars,
berkembangnya bunga dan lain-lain.
d. Meningkatkan daya tarik dan
perhatian siswa.
Penerapan teori yang salah dalam
situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat
tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter,
komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang
harus dipelajari murid. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para tokoh
behavioristik dianggap metode paling efektif untuk menertibkan siswa.
Permasalahan
1. Jelaskan apa pengaruh teori Atkinson dan gagne yang paling
besar bagi teori pemrosesan informasi?
2. bagaimana cara melihat siswa yang mampu memproses informasi
jangka pendek dan jangka panjang?
3. Jelaskan bagaimana cara kita meminimalisir hambatan atau
kekurangan dari teori pemerosesan informasi?
Saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 2 yaitu bagaimana cara melihat siswa yang mampu memproses informasi jangka pendek dan jangka panjang?
BalasHapusMemori jangka pendek bersifat terbatas baik dalam kapasitas maupun durasi. Informasi akan hilang dalam waktu 20-30 detik jika tidak diulang-ulang.
Sedangkan memori jangka panjang (LTM), memiliki kapasitas yang itdak terbatas dan dapat menahan informasi dalam jangka waktu yang lebih lama, namun sering kali memerlukan usaha yang keras agar dapat memasukan informasi ke memori ini.
dari sini dapat diamati siswa yang memiliki ingatan yang kuat terhadap suatu materi itu bisa dikatakan dia memiliki pemrosesan jangka panjang dan sebaliknya
saya akan menjawab permasalahan yang ketiga
BalasHapussebelumnya kita harus mengetahui hambatan atau kekurangan teori pemrosesan informasi, yaitu:
1. Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2. Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3. Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan dalam ingatan
4. Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
cara kita meminimalisir hambatan atau kekurangan dari teori pemerosesan informasi adalah
1. Memahami karakteristik anak
2. Menerapkan metode tertentu
3. Memilikan tempat duduk yang tepat.
4. Teman sebangku yang cerdas dan penolong
5. Memberikan tugas tambahan
6. meminta bantuan dari guru BK
7. Konsultasi dengan orang tua anak atau siswa
selain itu juga dengan menggunakan media dan multimedia yang membuat efektif dan efisien dalam pembelajaran dimana media dan multimedia adalah alat bantu yang mempermudah proses pembelajaran. multimedia yang digunakan harus sesuai prinsip prinsip dasar multi pembelajaran sehingga dapat meminimalisir hambatan atau kekurangan teori pemrosesan informasi
Saya akan menjawab permasalahan nomor 1
BalasHapusAtkinson dan Shiffrin (1968) mengajukan suatu teori atau model tentang pemrosesan informasi dalam memori manusia yang menyatakan bahwa informasi diproses dan disimpan dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu Sensory Memory, Short-term Memory, dan Long-term Memory.
Sensory Memory (SM)
Informasi masuk ke dalam sistem pengolah informasi manusia melalui berbagai saluran sesuai dengan inderanya. Sistem persepsi bekerja pada informasi ini untuk menciptakan apa yang kita pahami sebagai persepsi.
Short-term memory atau working memory berhubungan dengan apa yang sedang dipikirkan seseorang pada suatu saat ketika menerima stimulus dari lingkungan. Durasi suatu informasi tersimpan di dalam short-term memory adalah 15 – 20 sekon. Durasi penyimpanan di dalam short-term memory ini akan bertambah lama, bisa menjadi sampai 20 menit, jika terdapat pengulangan informasi.
Long-term memory merupakan memory penyimpanan yang relatif permanen, yang dapat menyimpan informasi meskipun informasi tersebut mungkin tidak diperlukan lagi.
Teori pemrosesan menurut Gagne:
Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak